TOYOTA GAZOO ROOKIE Racing (TGRR), sebuah tim yang dibentuk melalui penggabungan GAZOO Racing (GR) dan ROOKIE Racing (RR), kembali berkompetisi di 24 Hours of Nürburgring, Jerman, setelah partisipasi pertama pada tahun 2025.
Balapan ini mewakili akar Morizo dan melambangkan filosofi GR dalam menciptakan ever-better motorsports-bred cars. Dengan tim yang fokus pada pembalap muda dan didukung oleh para veteran, tim ini juga mengambil tantangan untuk mengembangkan bakat dengan cepat dan menyempurnakan mobil melalui kompetisi.
Meskipun telah menyelesaikan balapan di tahun 2025 tanpa kendala, pembalap yang mengandalkan GR Yaris DAT menyadari bahwa masih ada ruang untuk peningkatan lebih lanjut dan mulai menjelajahi wilayah baru. Mencerminkan upaya ini, race car 109 di bawah kepemimpinan Chief Engineer Hisatomi, menerima pembaruan agresif yang fokus pada powertrain, aerodinamika, dan track roda lebih besar.
Pada putaran kedua Nürburgring Langstrecken-Serie (NLS) di bulan Maret, mobil tersebut mencatat waktu putaran sekitar 10 detik lebih cepat daripada spesifikasi tahun lalu. Pada sesi kualifikasi, semua pembalap menyelesaikan putaran yang dibutuhkan guna menyelesaikan persiapan untuk balapan utama.
Saat balapan dimulai, bahkan ketika mobil-mobil papan atas tersingkir satu demi satu dalam kekacauan di tengah cuaca kurang bersahabat, GR Yaris No. 109 menjalankan lomba tanpa insiden, kecuali retakan di kaca depan.
Ishiura mengejar para pesaing yang lebih cepat dengan performa yang kuat sebelum menyerahkan kemudi kepada Morizo. Gaya mengemudinya yang halus, diwarisi dari mendiang Hiromu Naruse, menjaga pace agar stabil dan tanpa kendala.
Daisuke, yang mengambil alih selanjutnya, juga memberikan kecepatan yang stabil. Setelah menyerahkan kemudi kepada Oshima, mobil tersebut mengalami masalah kerusakan wiper, tombol pembatas kecepatan yang rusak, dan ban kempis. Tetapi tim segera mengatasinya dan berhasil melewati malam itu.
Saat fajar menyingsing sekitar pukul 6 pagi, Oshima melaporkan bahwa mobil bergetar dan terasa tidak normal yang menyebabkan melakukan pit stop. Tim lantas memutuskan tindakan yang paling dapat diandalkan: penggantian total mesin dan sistem penggerak.
Meskipun bekerja dalam kondisi terbatas, tim TGRR menyelesaikan penggantian dalam waktu sekitar tiga jam dan kembali ke lintasan sekitar tujuh jam setelah masalah terjadi. Morizo mengambil alih kemudi untuk sesi terakhir.
Menavigasi kondisi sulit dengan campuran bagian lintasan kering dan basah, ia mengemudi dengan penuh semangat guna menyelesaikan delapan lap sebelum melewati garis finish.
Meskipun tim akhirnya menyelesaikan 77 lap, mereka tidak memenuhi kriteria penyelesaian balapan, dan hasil resminya tercatat sebagai DNC (Did Not Classify).
Nürburgring 24 Jam penuh dengan perjuangan, jauh dari performa memuaskan tahun lalu. Namun, ini juga mengajarkan pelajaran mendalam tentang pentingnya menghadapi Nürburgring: “keep driving, repairing, and pushing forward”.
Tahun depan menandai peringatan 20 tahun GR berlaga di event Nürburgring. Tim TGRR akan melanjutkan petualangannya untuk membuat mobil balap yang lebih baik lagi guna mengubah kekecewaan tahun ini menjadi kepercayaan diri.